Dalam 30 detik
- Di Balik AI yang Kamu Pakai, Ada Data Center yang “Rakuss” Energi
- AI Butuh Listrik Besar, Indonesia Mulai Siapkan Infrastruktur Energinya
- 159 Data Center Indonesia Sudah Butuh 2.038 MVA
Jakarta — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan hanya soal chatbot, GPU, dan model bahasa. Di balik setiap layanan AI terdapat infrastruktur fisik yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Pemerintah bahkan mulai menyoroti kebutuhan energi sebagai salah satu tantangan utama dalam pengembangan ekosistem AI dan data center Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada 24 September 2026 mengatakan kebutuhan pasokan listrik dan air harus diperhitungkan ketika Indonesia memasuki era AI.
Gambaran skalanya mulai terlihat dari data PLN. Hingga September 2026, PLN melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas listrik tersambung 2.038 MVA. Sekitar 99% kapasitas tersebut masih terkonsentrasi di sistem Jawa-Madura-Bali, dengan Jawa Barat menjadi salah satu klaster data center terbesar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan AI dan layanan digital pada akhirnya membutuhkan infrastruktur energi yang nyata: pembangkit, jaringan transmisi, gardu, sistem pendingin, hingga pasokan listrik yang stabil. Dan kebutuhan tersebut diperkirakan terus berkembang.
AHY menyoroti bahwa konsumsi sumber daya dapat meningkat ketika aktivitas AI menjadi semakin kompleks.
Dalam paparannya, ia memberikan perbandingan konsumsi energi antara pencarian internet dan penggunaan AI untuk menghasilkan teks, gambar, hingga video. Perbandingan tersebut merupakan angka yang disampaikan AHY dalam acara FEKDI x Indonesia Fintech Summit & Expo dan bukan angka pengukuran yang diverifikasi secara independen dalam pemberitaan tersebut.
Pesannya cukup jelas: semakin banyak orang menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan komputasi di belakangnya.
GPU dan prosesor bekerja di data center, menghasilkan panas, lalu membutuhkan sistem pendingin. Semua komponen tersebut pada akhirnya membutuhkan energi.
Pemerintah juga melihat pertumbuhan data center sebagai peluang investasi.
Kementerian ESDM menyebut potensi energi Indonesia dapat menjadi salah satu modal untuk menarik pembangunan data center. Salah satu contoh yang disebut adalah potensi PLTA Sungai Mamberamo di Papua sekitar 23 GW dan Sungai Kayan di Kalimantan sekitar 12 GW.
Sementara itu, PLN menyatakan kebutuhan listrik data center memiliki karakteristik khusus, termasuk tuntutan terhadap kapasitas, keandalan, kualitas daya, serta pemanfaatan energi bersih.
Jadi, pertarungan teknologi AI ke depan bukan cuma soal siapa yang punya model AI paling pintar.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
“Siapa yang mampu menyediakan energi untuk menjalankan AI tersebut?”
Sumber
- AHY: Kebutuhan pasokan energi di era AI harus diperhitungkanAntara
- Kebutuhan Energi Meningkat, Industri Digital Berkembang Pesat, Indonesia Siap Menjadi Pusat DataKementrian ESDM
Next Level merangkum dan menambahkan konteks dari laporan sumber di atas. Opini ditandai jelas sebagai Next Level Take.




Diskusi(0)
Belum ada komentar. Mulai obrolannya!