In 30 seconds
- Seorang engineer anonim dengan akun v0xium mengklaim bekerja 12–13 jam sehari dalam workflow yang sangat bergantung pada AI.
- Ia menyebut Claude Code digunakan untuk membuat spesifikasi, kode, testing, tiket, hingga laporan.
- Postingan tersebut dilaporkan mendapat hampir 5 juta views dalam waktu singkat.
- Menurut engineer tersebut, masalah utamanya bukan sekadar AI, tetapi tekanan perusahaan untuk meningkatkan jumlah fitur yang dikirim.
- Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan tentang bagaimana peran programmer berubah ketika AI coding agent semakin mampu mengerjakan tugas teknis.
Ketika Programmer Tidak Lagi Banyak Menulis Kode
AI coding semakin berkembang. Tools seperti Claude Code kini tidak hanya digunakan untuk memberikan saran kode atau melengkapi baris program, tetapi juga dapat membantu mengerjakan tugas software development yang jauh lebih kompleks.
Namun, sebuah postingan dari seorang software engineer anonim justru menunjukkan sisi lain dari perubahan tersebut.
Engineer yang menggunakan nama v0xium di X mengungkapkan bahwa pengalaman kerjanya di sebuah perusahaan teknologi menjadi sangat berbeda setelah penggunaan AI coding semakin intensif. Menurut pengakuannya, berbagai bagian dari proses pengembangan software, mulai dari spesifikasi produk, kode, testing, PRD, tiket, penyelesaian tiket, hingga laporan, banyak dikerjakan menggunakan Claude Code.
Ia bahkan mengatakan bahwa karyawan dapat bekerja 12 hingga 13 jam sehari hanya untuk menekan tombol Enter dan menjalankan proses yang dibuat oleh AI. Postingan tersebut menjadi viral dan dilaporkan telah memperoleh hampir 5 juta views pada 21 September 2026.
Bukan Sekadar Soal AI
Menariknya, v0xium tidak menggambarkan masalah tersebut semata-mata sebagai kesalahan teknologi AI.
Dalam wawancaranya dengan Business Insider, ia justru mengkritik cara perusahaan mengukur produktivitas. Menurut pengakuannya, manajemen lebih berfokus pada jumlah sprint, pull request, dan fitur yang berhasil dikirim dibandingkan apakah fitur tersebut benar-benar memberikan manfaat atau apakah engineer memahami kode yang mereka kirim.
Situasi tersebut membuat AI menjadi alat untuk meningkatkan volume pekerjaan secara drastis.
Masalahnya, semakin banyak kode yang dihasilkan AI, semakin penting pula proses review, testing, dan pemahaman terhadap kode tersebut.
Jika developer hanya menerima hasil AI dan langsung memasukkannya ke dalam produk, risiko masalah teknis juga dapat meningkat.
Workflow Pemrograman Mulai Berubah
Dulu, alur sederhana pengembangan software bisa terlihat seperti:
Developer → Menulis kode → Testing → Review → Deploy
Dengan AI coding agent, prosesnya mulai bergeser menjadi:
Developer → Memberikan instruksi → AI membuat kode → Developer melakukan review → Testing → Deploy
Perubahan ini sebenarnya dapat memberikan keuntungan. Developer bisa menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pekerjaan repetitif dan lebih banyak waktu untuk merancang sistem, memahami kebutuhan pengguna, atau menyelesaikan masalah yang lebih kompleks.
Namun, pengalaman v0xium menunjukkan risiko ketika fokus perusahaan hanya diarahkan pada seberapa cepat dan seberapa banyak kode dapat dikirim.
Menurutnya, engineer justru membutuhkan waktu untuk memahami hasil AI, bukan hanya menjalankannya. Ia mengatakan kepada Business Insider bahwa dirinya tidak keberatan menggunakan AI apabila developer tetap diberi kesempatan untuk memeriksa kode dan memahami apa yang terjadi di baliknya.
Reaksi dari Dunia Teknologi
Postingan tersebut kemudian mendapat perhatian luas dari komunitas teknologi. Sejumlah figur industri ikut memberikan respons terhadap kekhawatiran tersebut, termasuk Elon Musk yang membalas postingan itu dengan komentar singkat.
Perdebatan yang muncul kemudian bukan sekadar “AI akan menggantikan programmer atau tidak?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Jika AI semakin mampu menulis kode, apa sebenarnya pekerjaan programmer di masa depan?”
Kemungkinan besar jawabannya tidak sesederhana menghilangkan programmer. Peran developer dapat bergeser dari orang yang sebagian besar waktunya menulis kode menjadi orang yang merancang solusi, memberikan instruksi kepada AI, memeriksa hasilnya, memahami arsitektur, melakukan debugging, serta memastikan software benar-benar bekerja sesuai kebutuhan.
Tetapi cerita v0xium memperlihatkan satu hal penting: AI coding tidak otomatis membuat pekerjaan software development menjadi lebih baik hanya karena jumlah kode yang dihasilkan meningkat.
Tanpa proses review dan pemahaman yang memadai, peningkatan kecepatan menghasilkan kode juga dapat menciptakan tantangan baru bagi tim developer.
Untuk saat ini, pengalaman tersebut tetap merupakan kesaksian dari satu engineer anonim, sehingga tidak dapat dianggap sebagai gambaran seluruh industri software. Namun, viralnya cerita ini menunjukkan bahwa perubahan cara kerja programmer akibat AI sudah menjadi topik yang semakin banyak diperbincangkan di komunitas teknologi.
Sources
- An Engineer's Viral Post Captures the Soul-Crushing Downside of AI CodingBusiness Insider
- Engineer says Claude Code has made his job "soul-sucking" as workers spend 12-hour days pressing enterTechSpot
- 「1日12時間、エンターキーを押すだけ」。AIコーディングが奪ったエンジニアの手応えBusiness Insider Japan
Next Level summarises and adds context to reporting from the sources above. Opinion is clearly marked as the Next Level Take.




Discussion(0)
No comments yet. Start the conversation!